Peran Pemuda Pertanian dalam Membangun Ekonomi Bangsa di Era Revolusi Industri 4.0



Revolusi Industri 4.0 merupakan babak baru perindustrian yang akan lebih banyak melibatkan teknologi virtual dan semakin canggih. Teknologi pendukung Revolusi Industri 4.0 antara lain yaitu kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), perkembangan robotika, realitas maya (Virtual Reality/VR) dan mesin cetak tiga dimensi (3D). Diperkirakan keberadaan Revolusi Industri 4.0 akan membawa beberapa akibat dalam proses industri dan kehidupan manusia antara lain yaitu disrupsi pekerjaan, inovasi, daya produksi, keamanan serta budaya dan identitas. Tantangan Revolusi Industri 4.0 harus direspons cepat dan tepat oleh seluruh pemangku kepentingan sehingga mampu meningkatkan daya saing bangsa di tengah persaingan global. Dalam perjalanannya, revolusi ini diperkirakan akan lebih mempergunakan mesin canggih sebagai tulang punggung produksi. Namun pada perjalanannya, Revolusi Industri 4.0 juga melahirkan sebuah inovasi yang mendobrak kebiasaan masyarakat saat ini. Gebrakan itu bernama e-commerce. E-commerce ialah aktivitas bisnis yang baik dari pemasaran hingga proses transaksi dilakukan melalui internet. Kehadiran e-commerce diyakini telah memudahkan konsumen dan produsen dalam melakukan transaksi serta dapat meningkatkan efisiensi biaya dengan menggantikan peran perantara dalam rantai distribusi. Hal tersebut lantas membuat e-commerce sebagai aspek yang dianggap penting pada abad ke-21.

          A. Pengenalan e-commerce sebagai solusi revolusi industri di bidang pertanian

Tinggi atau rendahnya pertumbuhan peningkatan pangan ditentukan oleh tingkat produktivitas para petani. Sebagai stakeholder yang menggantungkan hidup di sektor pertanian, sudah saatnya petani melek dengan kehadiran teknologi. Kehadiran teknologi mampu memberikan manfaat seperti peningkatan produktivitas, pengetahuan akan pengunaan sarana prasarana secara efisien dan dapat meningkatkan pendapatan petani dalam penjualan hasil komoditas. Adanya e-commerce merupakan salah satu contoh dari kehadiran teknologi.

Rantai distribusi yang dilalui oleh produk hasil pertanian tidak hanya melibatkan  produsen dan konsumen saja. Pada kenyataannya, rantai distribusi tersebut merupakan proses yang panjang dan melewati banyak tangan. “Tangan” yang dimaksud adalah para tengkulak-tengkulak yang selama proses pertanian mengambil keuntungan banyak dari penyaluran produk. Praktik yang sering terjadi adalah tengkulak tersebut membeli produk dari petani dengan harga yang sangat murah dan menjualnya kepada konsumen—masyarakat dengan harga yang sangat tinggi. Bahkan, harga yang dijual kepada konsumen bisa mencapai dua kali lipat dari harga aslinya. Hal ini menyebabkan ketidaksejahteraan petani karena produsen surplus yang harusnya didapatkan oleh petani telah diambil oleh tengkulak itu sendiri.

Disinilah peran e-commerce hadir untuk menggeser para tengkulak. E-commerce berperan layaknya jembatan yang menghubungkan petani langsung dengan para konsumen. Tentu saja dengan e-commerce ini transaksi menjadi jauh lebih efisien. Apalagi, harga nya bisa jauh lebih murah dan konsumen mendapatkan transparansi harga.

Penggunaan internet oleh para petani menduduki peringkat yang paling bawah dibandingkan profesi lainnya, penggunaan internet untuk kalangan petani masih sangat kurang. Selain itu, kesiapan petani tidak hanya diukur dari penggunaan internetnya. Peningkatan jumlah penduduk di Indonesia seiring pertambahan tahun menyebabkan permintaan pangan yang semakin meningkat pula. Petani harus mampu menyediakan suplai produk pertanian untuk mencukupi permintaan pangan konsumen yang semakin bertambah per tahunnya. Indikator kesiapan petani lainnya dapat dilihat dari kenaikan pendapatan dan kesejahteraan petani.

Penambahan permintaan pangan ini justru menunjukkan bahwa petani semakin memiliki kemampuan finansial yang lebih dalam memiliki gadget atau peralatan lainnya untuk menggunakan jasa layanan internet yang nantinya akan memicu penggunaan e-commerce pada kalangan petani. Pemerintah mendukung kehadiran e-commerce di Indonesia. Pemerintah bahkan memandang e-commerce memiliki potensi yang tinggi untuk meningkatkan perekonomian Indonesia.

Berbicara mengenai e-commerce, seperti yang ditunjukan dengan data-data sebelumnya memang masuk akal ketika e-commerce adalah tempat yang paling menguntungkan bagi startup baru dan paling efektif dalam menghidupkan ekonomi-ekonomi kecil. Tak terkecuali e-commerce bidang pertanian.

E-commerce dibidang pertanian bisa dibilang sebagai berkah tersendiri bagi stakeholdernya khususnya para petani. E-commerce sektor pertanian bukan hanya menyelesaikan permasalahan petani akan tengkulak tapi juga berperan aktif dalam mengembangkan dan kemampuan pun menaikan kesejahteraan petani. Contoh dari e-commerce tersebut dapat berupa toko sayur berbasis online.

      B. Solusi

Dengan melihat beberapa indikator, tersimpulkan bahwa sebagaian besar stakeholder tidak siap dalam menghadapi inovasi bernama E-commerce. Hal tersebut tentu membahayakan jika stakeholder  tidak diberdayakan dengan maksimal. Karena dengan terobosan E-commerce ini akan sangat menguntungkan baik dari petani sebagai produsen, masyarakat sebagai konsumen dan juga pemerintah sebagai pengontrol kebutuhan vital masyarakat. Oleh karena itu perlu ada upaya dari masing-masing stakehodler untuk mengoptimalisasikan e-commerce , yaitu:

1.  Peningkatan Infrastuktur Aksesibilitas Internet

Pemerataan internet menjadi salah satu cara untuk memicu kesiapan para stakeholder untuk mengoptimalkan e-commerce dalam sektor agraria. Pemerintah menjadi kunci utama dalam hal ini. Pasalnya, industri telekomunikasi bekerja dibawah peraturan yang dibuat oleh pemerintah. Pemerintah sebaiknya merekayasa regulasi sedemikian rupa agar industri telekomunikasi mengoptimalkan layanannya di berbagai daerah.

2.  Optimalisasi Fungsi Koperasi Unit Desa (KUD)

Tidak hanya dalam hal pemerataan jaringan internet, pemerintah juga dapat mendukung Koperasi Unit Desa (KUD) dalam mempersiapkan e-commerce bagi para petani. KUD diharapkan tidak lagi hanya bergerak dalam memberi penyuluhan tentang bercocok tanam kepada petani. KUD diharapkan dapat memberikan pembelajaran mengenai literasi teknologi seperti yang terjadi di India dalam memberdayakan petani dengan Digital Agriculture. Karena dengan pemberdayaan tersebut niscaya pemerintah akan mendapatkan keuntungan dalam menjaga stabilitas pangan yang merupakan salah satu bentuk kedaulatan di Indonesia.

3.  Peningkatan Literasi Digital

Literasi digital dapat dilakukan dengan cara lain seperti memberikan pelatihan. Pelatihan mengenai penggunaan internet dapat dilaksanakan dari pihak-pihak selain pemerintah. Swasta bisa menjadi salah satu motor penggerak dengan Corporate Sosial Responsibility (CSR) nya seperti perusahaan multinasional Intel yang menggelar pelatihan literasi digital dengan nama Intel Learn Easy Steps yang bertujuan untuk  meningkatkan keterlibatan sosial dan swasembada ekonomi masyarakat dengan cara menyediakan instruksi yang sederhana dan praktis dalam menggunakan teknologi. Peserta belajar mengeksplorasi perangkat lunak dan aplikasi dasar yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari seperti internet, media sosial, e-mail, dan lain-lain.

Sebagai contoh lain, Sampoerna Indonesia juga bekerja sama dengan Yayasan Inspirasi Indonesia Membangun(YIIM) untuk mengembangkan teknologi informasi dan komunikasi di Karangasem, Bali. Usaha pengembangan literasi digital ini berbasis kewirausahaan. Manajer Regional Relation dan CSR East PT HM Sampoerna Tbk, Arga Prihatmoko berharap adanya pemerataan pendidikan di Indonesia khususnya bidang literasi digital karena dunia kerja saat ini sudah berbasis teknologi. Ia berharap dengan kewirausahaan yang berbasis IT, masyarakat Indonesia mampu mem-branding dirinya.

            Dengan melihat kondisi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa petani dan pemerintah belum siap dalam mengoptimalisasi e-commerce di sektor agraria. Beberapa indikator seperti literasi digital yang masih tergolong rendah khususnya untuk para petani dan kurangnya upaya pemerintah dalam membentuk transparansi harga komoditas pangan menjadi permasalahan utama dalam usaha menghadapi digitalisasi sektor agraria. Namun, permasalahan tersebut dapat diselesaikan dengan solusi yang telah disajikan seperti upaya-upaya dari pemerintah  dan pemberdayaan swasta dalam memberikan pelatihan kepada para petani.

            Berdasarkan kondisi diatas juga, kita sebagai pemuda pertanian dapat membantu memajukan pertanian Indonesia dengan melakukan pemerataan literasi digital kepada para petani di Indonesia sehingga mereka dapat merasakan pengaruh dari kemajuan teknologi sekaligus memajukan pertanian itu sendiri. Tidak hanya dalam hal digitalisasi, kita juga dapat memberikan pelatihan secara langsung kepada petani tentang bagaimana mereka berinovasi di bidang pertanian sesuai dengan perkembangan zaman.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenalan Yuk ! (BIODATA DIRI)

Mimpi-Mimpi saat masuk Fakultas Ekonomi dan Manajemen sampai 40 Tahun kedepan

Ceritaku Bersama FEM 54 (Daily Activity)